Airmata yang mengalir itu menajdi sebuah petunjuk baru
Melalui jalan yang berliku dan penuh rintangan yand tiada habis
Tawa dan tangis pun selalu menyertai setiap perjalanan
Untuk meraih suatu impian yang selalu membayangi langkah kita
Percayalah pada diri sendiri...
Dan orang lain akan mendorong kita dari belakang dan memberi semangat
Aku tahu berjalan sendirian memang terasa menyakitkan
Tiada teman yang mengiringi kita berjalan
Tapi cobalah tengok kebelakang
Mereka berdiri di belakang kita tanpa kita sadari
Merekalah yang akan menopang kita saat kita akan terjatuh
Lalu menggandeng tangan kita dan menuntun untuk kembali berdiri dan berjalan
Melangkahlah dengan pasti
Karena suatu saat kau akan menemukan sesuatu yang kau cari
Cinta mereka kepadamu takkan pernah hilang
Rasa sakit yang kau rasakan akan berubah menjadi rasa semangat
Biarpun itu sangat sulit untuk dilakukan
Pandanglah langit yang biru itu dan tataplah dengan berani
Katakan kau takkan pernah takut pada panasnya matahari
Katakan kau takkan pernah takut pada rujaman air hujan yang turun
Katakan kau berdiri disini untuk mengubah dunia
Dulu kau berjalan gontai tanpa harapan
Kini berjalan dengan berani dan penuh semangat
Dulu kau bersembunyi dibalik kelamnya sudut kota
Kini kau keluar untuk menatap jalan dimasa depan
Rasakan angin yang berhembus dari belakang punggungmu
Rasakan perlahan lalu maju kedepan dan ikuti hembusannya
Angin itu takkan pernah mendorongmu kebelakang
Melangkahlah dengan pasti
Karena suatu saat kau akan menemukan sesuatu yang kau cari
Masa lalu yang suram dan gelap yang pernah menjadi bagian dari dirimu
Kini menjadi jalan yang akan kau pijaki menuju masa depan
Biarpun kau masih sedikit ragu akan kembali jatuh kedalamnya
Esok hari adalah tantang yang harus kau taklukan
Cahaya itu akan menuntun bersama angin dan teman-temanmu
Kelak kau akan menyadari
Betapa pentingnya mereka bagimu dan dihidupmu
Janganlah menjadi bocah yang baru kemarin
Semuanya akan menyertaimu berjalan menuju masa depan...
Selasa, 19 April 2011
Masa Depan (To Suzaku)
Diposting oleh Narin di 19.35 0 komentar
Rabu, 13 April 2011
Gila
Bersama angin kesepian yang berhembus menusuk tulang
Wajahku memucat... Begitupula bibirku
Detik jarum jam menemani dan selalu berdetik
Tik... Tik... Tik... Dengan keserasian nada yang teratur
Terdengar seolah seperti lagu kesepian untukku
Jiwa ini melayang jauh... Jauh menembus langit
Lalu jatuh terhempas... Kemudian hancur berkeping-keping seperti piring pecah
Pecahan itu terinjak oleh kakiku... Terinjak-injak dan terlindas
Sakit memang... Tapi aku tidak menangis...
Untuk apa menangis? Airmataku sudah lama kering
Kering dan tandus... Melebihi keringnya gurun pasir...
Kulepaskan pecahan itu yang menancap seperti paku dikakiku...
Sakit... Luar biasa sakit... Tapi aku tidak menangis...
Semua itu kurobek-robek! Kurobek-robek seperti kertas yang tak berdosa!
Kemudian kubakar hingga menjadi abu! Lalu kulumat habis-habis!
Setelah itu... Aku kembali berjalan
Menyusuri jalan kecil berkerikil tajam yang tiada habis itu
Biar saja mereka menyebutku gila!
Karena mereka yang menyebutku gila lebih gila dari diriku
Diposting oleh Narin di 01.17 0 komentar
Jumat, 08 April 2011
Jangan Pergi
Kau lepas pegangan tanganmu dari tanganku
Saat aku masih ingin menggenggam erat tanganmu
Kau lepas pelukanku saat ku peluk dirimu erat
Aku kini hanya bisa melihat punggungmu
Aku tak tahu bila saat itu aku harus kehilanganmu
Kini kau pergi... Melepas segala kenangan kita yang tersimpan
Kau meninggalkanku... Yang masih tak sanggup berdiri tanpamu
Kau pergi tanpa kata dalam kesunyian itu
Kau tinggalkan aku yang menangis sendirian ditempat itu
Aku tak tahu... Harus dibawa kemana rasa ini
Haruskah aku menarik tanganmu agar kau tetap disini?
Haruskah aku menangis didepanmu agar kau tahu aku tak mau kehilanganmu?
Jangan pergi... Jangan jauh dariku...
Aku lemah tanpamu... Aku tak sanggup tanpamu
Jujurku masih mengharapmu... Mengharapmu masih disini bersamaku...
Jujurku masih bergantung padamu... Terlalu bergantung padamu...
Ku tak sanggup menahan sepiku sendiri... Sungguh tak sanggup...
Sayangku terlalu jauh padamu... Sungguh terlalu jauh...
Aku mohon jangan pergi... Jangan tinggalkan aku...
Aku tak mau hidup tanpamu, aku tak mau menangis kehilanganmu
Aku tak mau sendiri... Jangan lepaskan diriku ini
Diriku yang rapuh, lemah dan masih bergantung padamu...
Kumohon jangan pergi...
Diposting oleh Narin di 23.41 0 komentar
Label: Puisi Gaje
Kamis, 07 April 2011
Larut
Kemarin malam...
Aku duduk sendiri disudut kamarku
Termenung dalam kesunyian malam yang sendu
Rintik-rintik hujan yang jatuh di atap rumah
Berirama senada denganm alunan senar gitar yang kupetik
Larutku dalam melodi-melodi sendu yang kubuat
Bersama dengan dinginnya malam yang memelukku
Aku bernyanyi dan mengingat sesuatu tentang dirimu
Suaraku yang serak memang tak senada dengan melodi yang kumainkan
Terasa sesuatu perasaan yang perih dalam hati ini
Mengapa? Aku pun tak tahu...
Aku terus bernyanyi dan memainkan gitarku
Rintik-rintik hujan telah berhenti, tapi aku belum berhenti bernyanyi
Aku termenung sendirian dimalam yang dingin itu
Hanya bisa bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi sendirian
Karena aku tak ingin mendengar suara kesunyian
Dan aku tak ingin menangis dalam kesunyian ini
Kemarin malam...
Aku duduk sendiri di sudut kamarku
Aku tetap memainkan gitarku dan menangis...
Walaupun rintik hujan telah berhenti membasahi malam itu...
Diposting oleh Narin di 22.50 0 komentar
Label: Puisi Gaje
29 Juli
Waktu terus berputar...
Takkan pernah berhenti untuk menangisi raga yang telah mati
Jiwa-jiwa penasaran berkelana mencari kepastian
Berusha menghentikan waktu dengan tangannya yang kering dan rapuh
Tidak bisa kembali ke raga karena telah hancur dilumat tanah
Aku duduk disamping pusaran bisu itu
Membatu menatap nisan tua kelabu itu
Bermimpi untuk menjadi bagian dari mereka
Dan berharap bisa menghentikan waktu agar semuanya membeku
Tiada siang yang begitu panas dan tiada malam yang begitu dingin
Semuanya menjadi kelabu dan suram tanpa warna...
Waktu terus berputar...
Meninggalkan luka-luka masa lalu yang tak terperi
Aku masih duduk membisu disamping pusara bisu itu
Berpikir bagaimana caranya memutar balik waktu yang berlalu itu
Memecahkan memori-memori pahit dan indah yang pernah kualami
Kutatap nisan kelabu itu dan tersenyum getir
Kutinggalkan setitik kenangan yang tersisa itu dan berharap takkan pernah terulang lagi
Pada hidupku dan hariku yang baru disana
29 Juli 1993-29 Juli 2020
Diposting oleh Narin di 02.45 0 komentar
Label: Puisi Gaje
Sabtu, 02 April 2011
Lolongan Serigala Bodoh
Angin musim semi telah pergi...
Nyanyian musim panas telah berakhir...
Dedaunan musim gugur telah jatuh
Dinginnya musim dingin telah mencair...
Aku... Diriku...
Terdiam di dalam ruangan kamarku
Duduk sendirian menanti detik-detik Thanatos menjemputku pulang...
Aku sebenarnya tidak ingin makhluk kelam itu menjemputku!
Aku masih mau disini! Merasakan kehidupanku dan duniaku!
Hei...
Dengarkanlah laguku...
Lagu yang kubuat dengan nada-nada falset dan harmoni yang tak beraturan
Mungkin ini adalah lagu kematian untuk menyambut datangnya Thanatos yang kelam itu
Jam dinding pun berhenti berputar...
Mungkin dia pusing mendengarkan ocehanku yang tak karuan ini...
Bodoh! Apa karena penderitaanku ini, aku menjadi bulan-bulanan diriku sendiri!?
Apakah aku yang kalah oleh diriku sendiri berhak menjadi bulan-bulananmu!?
Otakku juga sedang berpikir!
Berpikir bagaimana caranya berlari dari kejaran kebodohanku dan bersembunyi di balik ketiak waktu untuk berubah!
Berpikir mencari jalan keluar yang terbaik tanpa menimbulkan masalah hidup!
Biarkan saja mereka yang mencaciku!
Biarkan saja mereka menyebutku bajingan!
Itu karena mereka saja yang tidak tahu! Tidak tahu kenapa aku berbuat seperti ini!
Dengar!
Apa yang kuperbuat ini atas dasar alasan yang belum kalian pahami!
Seenaknya saja menyebutku sebagai manusia yang tidak tahu malu!
Lihatlah dengan kedua mata telanjang kalian!
Kalau mau, akan kulumat dagingku sendiri didepan kalian!
Kuminum darah ayam cemani itu didepan mata kalian!
Agar kalian puas! Agar kalian tahu!!
Masalahnya...
Aku sendiri juga bodoh!
Kenapa aku tak mau menceritakannya...
Sebab... Aku tak mau mereka melolong mengolok-olok diriku!
Tapi biarlah...
Toh... Sekarang Thanatos sudah tiba.
Dia tersenyum penuh kelicikan kepadaku
Walaupun aku belum siap... Tapi ini memang sudah jalanku...
Diposting oleh Narin di 00.03 0 komentar
Label: Puisi Gaje
